Sebanyak 1724 item atau buku ditemukan

Kajian bahasa

struktur internal, pemakaian, dan pemelajaran

Research on internal structure of language and its usage in social communication in Indonesia.

Jawaban terhadap pertanyaan ini sangat tergantung pada landasan teori yang
digunakan . ... Namun , pada kenyataannya dalam penelitian yang bersifat
eksperimen banyak digunakan hipotesis alternatif , bukan hipotesis nol . Hal ini
terjadi ...

Antologi kajian kebahasaan

Study and teaching on Indonesian languages.

1.3 Lingkup Penelitian Lingkup pembicaraan tulisan ini meliputi unsur - unsur
pembentuk frasa nomina bahasa Jawa beserta konstruksinya . Di dalam teori GB
, frasa nomina itu merupakan hasil proyeksi maksimal dari inti yang berkategori ...

Pengaruh eco-labeling terhadap perdagangan luar negeri

kajian standar mutu, potensi, dan pasar beberapa komoditas

Influence of ecolabelling on Indonesian foreign trade; collection of articles.

Saing Komoditas Ekspor Indonesia yang perlu mendapat perhatian dalam PNPS
adalah : kebijakan nasional , kebutuhan pasar dalam negeri , perkembangan
standardisasi serta kesepakatan regional dan internasional , persyaratan ...

Sejarah dan budaya Bugis di Tawau, Sabah

History, social life and customs of Bugis people in Tawau, Sabah, Malaysia.

Rujukan A.S. Kambie . 2003. Akar Kenabian Sawerigading : Tapak Tilas Jejak
Ketuhanan Yang Esa Dalam Kitab I La Galigo ( Sebuah Kajian Hermeneutik ) .
Makasar : PARASUFIA . Abdul Rahman Al - Ahmady . 2003. “ Sawerigading
dalam ...

Sejarah hukum Islam

dari kawasan jazirah Arab sampai Indonesia

History of Islamic law related to its development in Indonesia.

Hijaz adalah tempat tinggal kenabian . Di situ Rasul menetap , menyampaikan
seruannya , kemudian para sahabat beliau menyambut , mendengarkan ,
memelihara sabda - sabda beliau , dan menerapkannya . Dan ( Hijaz ) tetap
menjadi ...

Sejarah Wahdah Islamiyah

sebuah geliat ormas Islam di era transisi

History of Wahdah Islamiyah, an Islamic organization from Makassar.

Kalau melacak dalam perkembangannya , peradaban Islam justru berdiri megah
dalam kekuasaan Abbasyiyah di Baghdad yaitu , tempatnya para ilmuwan , sufi ,
ahli tasawuf , imam mazhab dan pemikir - pemikir tentang politik , ekonomi ...

Arkeologi Sejarah-Pemikiran Arab-Islam

Hingga kini, wacana keislaman boleh dikatakan masih berkutat pada bagaimana Islam harus dipandang setelah agama tersebut berjalan lebih dari lima belas abad lama- nya semenjak ia dilahirkan, dan sedang dihadapkan dengan prestasi “pihak lain” dengan berbagai keajaiban modernitasnya. Pandangan terhadap hal tersebut sangatlah penting, terutama di era-era belakang- an ini. Sebagai sebuah komunitas, umat Islam memiliki keyakinan bahwa mereka adalah umat terbaik (khair al-ummah). Akan tetapi, pada saat yang sama mereka sedang berada dalam posisi “tidak berdaya” menghadapi apa saja yang diluncurkan dari pihak lain yang oleh sebagian besar di antara mereka dianggap sebagai “musuh” yang tidak boleh didekati, dah bahkan justru harus diperangi dan disingkir- kan. Mengambil begitu saja apa yang datang dari mereka akan ber- akibat lenyapnya jati diri yang sudah mengakar. Akan tetapi, tetap mempertahankan diri dengan bersikap eksklusif juga akan berakibat pada munculnya proses alienasi diri dari kehidupan. Jika demikian masalahnya, lantas bagimana umat Islam harus bersikap terhadap teks dasar keagamaan Islam (Al-Qur’an dan Hadits) dan juga terhadap tradisi Islam, serta bagimana juga umat Islam harus mengambil posisi dalam kancah pertarungan ideologi, politik, pemikiran, dan kebudaya- an modern saat ini? Jika kita harus merujuk pada masa silam Islam, viii Adonis Arkeologi Sejarah-Pemikiran Arab-Islam Vol.1 pertanyaannya: Islam mana yang mungkin dapat dirujuk kembali dalam menghadapi situasi seperti itu dan juga bagaimana menarik ulang Islam tersebut ke pentas kehidupan modern? Dalam kaitan ini, paling tidak ada tiga alternatif yang mungkin bisa dipilih dan dijadikan acuan, dan dari salah satu dari ketiganya atau bahkan dari ketiga-tiganya bisa kita terapkan dan hadirkan kembali dalam kehidupan modern sekalipun hal itu juga tidaklah mudah. Ketiga acuan tersebut adalah: pertama, merujuk pada teks dasar Islam, yaitu Al-Qur’an. Kedua, merujuk pada seluruh tradisi yang muncul pada era kenabian sebagai bentuk aplikasi dari yang pertama. Dan, ketiga, merujuk pada keseluruhan produk dari interaksi tripartit antara umat Islam, teks-teks keagamaan (Al-Qur’an, al-hadis, dan riwayat-riwayat sahabat), dan situasi yang melingkupi mereka sepanjang sejarah. Meskipun demikian, menarik kembali apa yang mungkin disebut dengan “islam” ke dalam pentas kehidupan modern tentu tidak dapat dilakukan begitu saja dengan menghadirkan ulang secara apa adanya acuan tersebut. Hal itu karena pada saat kemunculannya, teks dasar Islam melakukan interaksi dengan ruang dan waktu sebelum ke- mudian membentuk tradisi. Artinya, ia sendiri sudah tidak lagi “polos” atau “telanjang”, dan tradisi bentukan teks dasar tersebut muncul dalam kondisi tertentu. Ia unik dan terbatas. Kalau saja tradisi pertama muncul secara demikian maka tradisi-tradisi berikutnya terbentuk dalam situasi yang lebih kompleks. Oleh karena begitu rumitnya persoalan tersebut maka sangat wajar jika umat Islam pada umumnya dan masya- rakat muslim Arab pada khususnya sering mengalami kegamangan di dalam mengambil sikap terhadap kekayaan tradisi yang mereka miliki pada satu sisi, dan juga terhadap munculnya modernitas yang merambah dunia Arab-Islam di sisi yang lain.

Jadi, pada dasarnya khilâfah (maksudnya kekuasaan) merupakan warisan
kenabian. Oleh karena itu, kekuasaan Islam, diawal pertumbuhannya, bukan
sekadar persoalan tanggungjawab sipil, melainkan juga persoalan
tanggungjawab ...

Antropologi

"Kebudayaan bukanlah sesuatu yang statis, melainkan bisa mengalami perubahan secara lambat tetapi pasti atau yang dikonsepsikan sebagai peru-bahan evolusioner. Perubahan kebudayaan tersebut terkait dengan proses masuknya berbagai macam kebudayaan dari tempat, suku, dan ras lain atau juga karena proses sosial yang terus berubah. Dengan demikian, buku ini mengajak kita untuk merefleksikan kembali tata nilai kebudayaan yang sekian waktu lupa dari perhataian kita. dalam buku ini, kita diperkenalkan teori sekaligus aplikasinya pada ranah sosial untuk dianalisis sebagai jembatan kekosongan ruang makna kebudayaan. "

"Kebudayaan bukanlah sesuatu yang statis, melainkan bisa mengalami perubahan secara lambat tetapi pasti atau yang dikonsepsikan sebagai peru-bahan evolusioner.