Sebanyak 6 item atau buku ditemukan

Amarah

Catalog of manuscripts of Indonesia.

1218 EFEO/KBN-176 PELAJARAN AGAMA ISLAM Bhs. Sunda Aks. Pegon Puisi:
wawacan 18.04 109 hlm. Kertas Judul: dalam teks: Pasal Sambahyang (h. 1).
Ukuran: hlm.: 21 x 16, 5 cm; tulisan: 17, 5x13 cm. Jilid: 1 dari 1; jenis alas naskah:
kertas Eropa. Cap Kertas: Lion in Medallion: PRO PATRIA EIUSQUE LIBERTATE
; VRYHEYD. Hlm.: ygditulis: 108; kosong: 1. Penomoran hlm.: ada; ditambahkan
kemudian. Tinta: hitam agak pucat. Tulisan: sebagian kurang kontras. Pupuh: ...

Cerdas Emosi: Membantu Anak Balita Mengelola Amarahnya

Tidak jarang hal ini dapat menimbulkan stres pada anak karena ia merasa
terpaksa dan tidak nyaman dengan aturan yang ditetapkan, tetapi ia tidak bisa
membantah perkataan orang tuanya. Akhirnya, ia menjalankan disiplin yang
ditetapkan ...

Meredakan Emosi Amarah Dalam Pandangan Islam

Alkisah dalam sebuah peperangan, Ali ibn Abu Thalib RA sukses mengalahkan lawannya. Ia berhasil memukul pedang sang lawan hingga terlempar, dan menjungkalkan tubuh lawannya itu hingga tak berkutik di tanah. Lalu, Ali menghunuskan ujung pedangnya di leher sang lawan, menunggu untuk menusukkannya. Namun tiba-tiba, lawan yang tergeletak itu meludahi wajah Ali. Ali sangat kaget, seraya lekas mengusap lelehan air ludah lawannya itu dari wajahnya. Ali terdiam sesaat, kemudian menarik pedangnya dan beranjak pergi meninggalkan lawan yang masih terlentang di atas tanah. Seseorang lalu bertanya heran mengapa Ali malah pergi dan bukan membunuh musuh yang sudah menyerah kemudian meludahinya. Ali menjawab, “Aku diludahi, maka timbul amarah dan benci dalam hatiku kepadanya. Karena itu aku meninggalkannya.” Ia melanjutkan, “Betapa marahnya Tuhan kepadaku jika aku membunuhnya karena amarah dan kebencian.” Sebuah tindakan yang sungguh sulit dimengerti. Ketika musuh sudah tidak berkutik, kemudian menghina dengan meludahi muka, malah diampuni. Alasan Ali sederhana: jihad fî sabîlillâh yang dilakukannya akan ternoda jika membunuh atas dasar nafsu pribadi. Mengubur nafsu amarah atau ingin membalas dendam, butuh perjuangan berat. Karena banyak fakta memperlihatkan, nafsu membunuh dan mengumbar dendam tak dapat terelakkan. Apalagi ketika emosi sudah mencapai ubun-ubun, ditambah jika ada kesempatan atau pihak yang memprovokasi. Ketika marah, orang yang berhati lembut bisa lekas berubah sangar. Yang pengasih pun bisa beralih menjadi brutal. Begitulah. Manusia memang gudangnya khilaf dan dosa. Mata sempurna, tapi penglihatan tertutup. Kemarahan, kalau tidak dikelola dengan hati-hati, cenderung akan membuat kita kebablasan. Karena itu, kemarahan sangat tak patut untuk diumbar. Bolehlah kita marah tapi hanya sewajarnya.

Alkisah dalam sebuah peperangan, Ali ibn Abu Thalib RA sukses mengalahkan lawannya.