Sebanyak 24 item atau buku ditemukan

Book Series Perspektif Perpustakaan Indonesia Volume 1: Teknologi Informasi Dalam Transformasi dan Adaptasi Perpustakaan di Masa Pandemi

Perpustakaan sebagai lembaga yang berhubungan secara langsung dengan ketersediaan informasi harus selalu up to date mengikuti perkembangan teknologi informasi. Perpustakaan seyogyanya bertransformasi terhadap fenomena yang terjadi saat ini termasuk bertransformasi dalam hal teknologi informasi dan beradaptasi terhadap fenomena yang terjadi saat ini yaitu pandemi Covid-19. Pandemi Covid-19 menyebabkan perpustakaan harus mempunyai standar dan protokol kesehatan, risiko dan keselamatan sehingga dapat memberikan pelayanan secara optimal kepada pemustaka. Kehadiran buku ini menggambarkan secara komprehensif bagaimana perpustakaan dapat memberikan layanan dengan menerapkan standar protokol kesehatan serta mengetahui risiko layanan perpustakaan serta keselamatan sehingga dapat memberikan layanan secara optimal di masa pandemi.

Perpustakaan sebagai lembaga yang berhubungan secara langsung dengan ketersediaan informasi harus selalu up to date mengikuti perkembangan teknologi informasi.

Tafsir Al-Amîn—Bedah Surah Al-Fâtihah

Edisi Revisi

Tafsir Al-Amîn—Bedah Surah Al-Fâtihah dilakukan secara berkelanjutan (sustainable) dengan menggunakan banyak metode (multi method) penafsiran. Hal ini demi menghasilkan Tafsir Al-Qur’an yang lebih objektif, terbaik, utuh, dan menyeluruh (comprehensive). Langkah ini dipilih, terinspirasi oleh Al-Qur’an yang secara tekstual maupun kontekstual memiliki keragaman serta one book for all (satu buku untuk semua insan dan semua urusan). Cita ideal yang disuarakan Tafsir Al-Amîn, yakni dengan dinamika penafsirannya yang selalu berubah secara elastik sehingga bisa menjawab setiap tantangan dan semua persoalan. Pada edisi revisi ini tidak ada perbedaan yang bersifat mendasar dan dalam jumlah yang banyak dibandingkan dengan penerbitan perdananya. Namun demikian, terdapat penambahan materi terkait dengan subfasal dan bahkan bab tertentu dalam hal ini “Hubungan Antara Surah Al-Fâtihah dan Surah An-Nas” di samping subbab “Kesimpulan Hukum (istinbath al-ahkam)” dan “Catatan Penting Nilai Edukasi yang Diperoleh dari Surah Al-Fâtihah pada khususnya dan Al-Qur’an pada umumnya”.

Tafsir Al-Amîn—Bedah Surah Al-Fâtihah dilakukan secara berkelanjutan (sustainable) dengan menggunakan banyak metode (multi method) penafsiran.

Tafsir Ekonomi Kontemporer

Menggali Teori Ekonomi dari Ayat-Ayat Al-Qur'an

Buku ini berusaha menggali beberapa teori ekonomi yang terkandung di dalam ayat-ayat Al-Qur’an dengan menggunakan metode dengan pendekatan yang jarang dilakukan oleh penulis lain-nya yaitu pendekatan “tafsir ekonomi”. Di mana pendekatan “tafsir” merupakan pendekatan original yang selama ini digunakan oleh para ulama dalam menggali hukum, hikmah, dan ilmu yang terkandung dalam Al-Qur’an. Penggalian terhadap teori ekonomi tersebut dida-hului dengan mengeksplorasi beberapa kitab tafsir terkemuka baik yang berupa tafsir bil ma’tsur, seperti Tafsir ath-Thabari dan Tafsir Ibnu Katsir maupun tafsir bir ra’yi, seperti Tafsir Ruh al-Ma`ani dan al-Kasysyaf. Selanjutnya, penulis mengombinasikan beberapa pendapat di atas dengan beberapa teori ekonomi modern.

Buku ini berusaha menggali beberapa teori ekonomi yang terkandung di dalam ayat-ayat Al-Qur’an dengan menggunakan metode dengan pendekatan yang jarang dilakukan oleh penulis lain-nya yaitu pendekatan “tafsir ekonomi”.

Antologi Tafsir

Esai-Esai Interpretasi Tematik Al-Qur’an Civitas Akademika STIQ Al-Lathifiyyah Palembang

Buku ini merekam gambaran proses para penulisnya dalam ke-juhud-an upaya mengaplikasikan teori-teori di seputar diskursus ilmu tafsir, terutama dalam bidang metodologi tafsir tematik.

Buku ini merekam gambaran proses para penulisnya dalam ke-juhud-an upaya mengaplikasikan teori-teori di seputar diskursus ilmu tafsir, terutama dalam bidang metodologi tafsir tematik.

Arkeologi Sejarah-Pemikiran Arab-Islam

Hingga kini, wacana keislaman boleh dikatakan masih berkutat pada bagaimana Islam harus dipandang setelah agama tersebut berjalan lebih dari lima belas abad lama- nya semenjak ia dilahirkan, dan sedang dihadapkan dengan prestasi “pihak lain” dengan berbagai keajaiban modernitasnya. Pandangan terhadap hal tersebut sangatlah penting, terutama di era-era belakang- an ini. Sebagai sebuah komunitas, umat Islam memiliki keyakinan bahwa mereka adalah umat terbaik (khair al-ummah). Akan tetapi, pada saat yang sama mereka sedang berada dalam posisi “tidak berdaya” menghadapi apa saja yang diluncurkan dari pihak lain yang oleh sebagian besar di antara mereka dianggap sebagai “musuh” yang tidak boleh didekati, dah bahkan justru harus diperangi dan disingkir- kan. Mengambil begitu saja apa yang datang dari mereka akan ber- akibat lenyapnya jati diri yang sudah mengakar. Akan tetapi, tetap mempertahankan diri dengan bersikap eksklusif juga akan berakibat pada munculnya proses alienasi diri dari kehidupan. Jika demikian masalahnya, lantas bagimana umat Islam harus bersikap terhadap teks dasar keagamaan Islam (Al-Qur’an dan Hadits) dan juga terhadap tradisi Islam, serta bagimana juga umat Islam harus mengambil posisi dalam kancah pertarungan ideologi, politik, pemikiran, dan kebudaya- an modern saat ini? Jika kita harus merujuk pada masa silam Islam, viii Adonis Arkeologi Sejarah-Pemikiran Arab-Islam Vol.1 pertanyaannya: Islam mana yang mungkin dapat dirujuk kembali dalam menghadapi situasi seperti itu dan juga bagaimana menarik ulang Islam tersebut ke pentas kehidupan modern? Dalam kaitan ini, paling tidak ada tiga alternatif yang mungkin bisa dipilih dan dijadikan acuan, dan dari salah satu dari ketiganya atau bahkan dari ketiga-tiganya bisa kita terapkan dan hadirkan kembali dalam kehidupan modern sekalipun hal itu juga tidaklah mudah. Ketiga acuan tersebut adalah: pertama, merujuk pada teks dasar Islam, yaitu Al-Qur’an. Kedua, merujuk pada seluruh tradisi yang muncul pada era kenabian sebagai bentuk aplikasi dari yang pertama. Dan, ketiga, merujuk pada keseluruhan produk dari interaksi tripartit antara umat Islam, teks-teks keagamaan (Al-Qur’an, al-hadis, dan riwayat-riwayat sahabat), dan situasi yang melingkupi mereka sepanjang sejarah. Meskipun demikian, menarik kembali apa yang mungkin disebut dengan “islam” ke dalam pentas kehidupan modern tentu tidak dapat dilakukan begitu saja dengan menghadirkan ulang secara apa adanya acuan tersebut. Hal itu karena pada saat kemunculannya, teks dasar Islam melakukan interaksi dengan ruang dan waktu sebelum ke- mudian membentuk tradisi. Artinya, ia sendiri sudah tidak lagi “polos” atau “telanjang”, dan tradisi bentukan teks dasar tersebut muncul dalam kondisi tertentu. Ia unik dan terbatas. Kalau saja tradisi pertama muncul secara demikian maka tradisi-tradisi berikutnya terbentuk dalam situasi yang lebih kompleks. Oleh karena begitu rumitnya persoalan tersebut maka sangat wajar jika umat Islam pada umumnya dan masya- rakat muslim Arab pada khususnya sering mengalami kegamangan di dalam mengambil sikap terhadap kekayaan tradisi yang mereka miliki pada satu sisi, dan juga terhadap munculnya modernitas yang merambah dunia Arab-Islam di sisi yang lain.

Jadi, pada dasarnya khilâfah (maksudnya kekuasaan) merupakan warisan
kenabian. Oleh karena itu, kekuasaan Islam, diawal pertumbuhannya, bukan
sekadar persoalan tanggungjawab sipil, melainkan juga persoalan
tanggungjawab ...

Pengantar Metodologi Ilmu Sosial Kritis Jurgen Habermas

Buku yang mengulas teori kritik sosial masyarakat secara keseluruhan cukup banyak. Meski demikian, tidak sedikit mahasiswa yang merasa kesulitan dalam menangkap gagasan dan pesan teori kritik, khususnya pikiran-pikiran Habermas, lebih spesifik lagi menyangkut gagasan “metodologi teori kritiknya”. Komentar atas gagasan pemikiran Jurgen Habermas cukup banyak, dari spektrum ide yang positif hingga spektrum pemikiran yang negatif. Spektrum positif menganggap gagasannya bermanfaat untuk transformasi masyarakat, tetapi dari spektrum pemikiran yang negatif tidak sedikit yang menganggap idenya lebih banyak mendorong ke arah “utopia”, bahkan penuh nuansa represif dan kolonialistis, terutama dibandingkan dengan pikiran-pikiran kritis lainnya. Di samping itu, ada juga yang terinspirasi dari teori kritik generasi pertama, yang mengatakan teori kritik tidak lain ialah teori yang mengajarkan bagaimana melakukan kritik sistem, kritik ideologi, kekuasaan, meskipun kritik semacam ini bisa saja dipakai sebagai “senjata halus” untuk masuk menjadi bagian dari sistem apa pun yang kita kritik. Pendek kata, dalam kaitannya dengan dunia ilmu pengetahuan, berbagai tesis pemikiran boleh ditampilkan sebagai objek “discourse” yang terbuka sehingga siapa pun sebagai anggota “komunitas gagasan” sewajarnya tak apriori dalam menelaah seberapa jauh tesis-tesis yang berseliweran di seputar teori kritik itu bisa dipertanggungjawabkan. Buku ini, tak terkecuali, pada akhirnya ialah kumpulan ide yang terbuka sehingga pembaca dapat meresponsnya dengan berbagai macam mode pemikiran. Selain itu, buku ini dimaksudkan untuk membantu khalayak luas untuk memperkaya cakrawala pemikiran ilmu sosialnya. [UGM Press, UGM, Gadjah Mada University Press]

Buku yang mengulas teori kritik sosial masyarakat secara keseluruhan cukup banyak.

Partai, Pemilu, dan Parlemen Era Reformasi

Hampir tidak ada upaya serius para pemimpin partai politik era reformasi dewasa ini untuk membenahi diri. Para politisi partai justru makin melestarikan problematik struktural partai-partai dan “menikmati” situasi tidak sehat tersebut demi kelangsungan kekuasaan pribadi dan atau kelompok mereka sendiri. Kecenderungan serupa tampak pula dalam konteks sistem kepartaian, sehingga tidak jelas arah dan formatnya, apakah koheren dengan pilihan terhadap sistem pemerintahan, sistem perwakilan, dan sistem pemilu. Sementara itu pemilu-pemilu yang semakin bebas, demokratis, dan bahkan semakin langsung, cenderung menghasilkan sebagian wakil rakyat yang korup dan tidak bertanggung jawab. Buku ini tidak hanya membedah problematik partai politik, sistem kepartaian, pemilu, dan format keparlemenan serta kualitas kinerja legislatif yang dihasilkan oleh pemilu-pemilu era reformasi, melainkan juga merumuskan “peta jalan” perubahan politik yang perlu dilakukan ke depan agar sistem demokrasi pasca-Orde Baru benar-benar berorientasi pada kepentingan rakyat dan kolektifitas bangsa kita.

Hampir tidak ada upaya serius para pemimpin partai politik era reformasi dewasa ini untuk membenahi diri.

40 Hadis

Mehmet Yaşar. Peygamberimiz (asm) demiş ki: “Başkasına zarar vermek, zarara
zararla karşılık vermek yoktur.” (Kütüb-i Sitte, Ahkâm Bölümü, Cilt:17, Hadis No:
6715) Suyu üç yudumda Besmeleyle içelim. Nimetin sonunda Hamd olsun ...

Kemunculan Dajjal & Imam Mahdi Semakin Dekat

Kiamat merupakan fenomena kehancuran alam semesta yang menandakan berakhirnya kehidupan dunia. Fenomena tersebut merupakan keniscayaan, tetapi tidak ada satu makhluk pun yang tahu kapan terjadinya. Nemun begitu, Allah akan memberikan tanda-tanda akan datangnya hari yang begitu dahsyat tersebut. Dan, di antara peristiwa yang menandai akan terjadi kiamat adalah munculnya Dajjal dan Imam Mahdi serta turunnya Nabi Isa AS. “Kiamat tidak akan terjadi hingga diutus Dajjal-Dajjal pendusta, yang jumlah mereka mencapai tiga puluh. Semuanya mengaku sebagai utusan Allah.” (HR. Muslim) Buku ini cocok bagi mereka yang hendak memahami dan mendalami rentetan peristiwa yang akan terjadi pada hari akhir (kiamat). Dilengkapi: 1. Tanda-tanda kiamat. 2. Ciri-ciri Dajjal dan Imam Mahdi 3. Peristiwa turunnya Nabi Isa AS. 4. Ciri-ciri Ya’juj dan Ma’juj. 5. Tingkatan surga dan neraka. -WahyuQolbu-

“Seandainya dunia hanya tinggal sehari, Allah pasti akan memanjangkan hari itu
sampai Allah mengutus seorang laki-laki dariku, atau dari keluargaku, yang
namanya sama dengan namaku, Itulah Imam Mahdi Akbar yang akan muncul
pada akhir zaman. Tetapi, Imam Mahdi menurut makna bahasa telah dan akan
terus bermunculan. Sebagaimana Ibnu Taimiyah mengatakan, “Imam Ahmad di
dalam salah satu dari dua riwayat darinya dan riwayat lain, berpendapat bahwa
Umar bin ...

Perempuan Nuaulu

Tradisionalisme dan Kultur Patriarki

“Memahami cara pandang tradisional orang Nuaulu khususnya laki-laki Nuaulu terhadap perempuan Nuaulu, akan menambah referensi pengetahuan kita tentang kedudukan dan peran kaum perempuan Nuaulu dari perspektif gender. Memperlakukan perempuan dengan cara demikian, menunjukkan adanya kesepakatan sosial bersama sebagai satu komunitas dalam mengembangkan dan memelihara totalitas environment mereka guna mencapai social order. Itulah standar pengetahuan mereka yang menjadi salah satu pilar penting bagi survival strategy, sehingga sebagai outsider, kita harus berhati-hati untuk membuat penilaian terhadap realitas dimaksud terutama dari perspektif gender. Selama mereka merasa aman, damai, nyaman, dan semua kebutuhan hidup bersama sebagai satu komunitas bisa terpenuhi oleh struktur sosial demikian, adakah orang yang berhak memberikan “penghakiman”? Jika ada pihak yang ingin melakukan perubahan atas nama apapun terutama pembangunan, maka baiklah proses perubahan itu didorong secara evolusioner dan diletakkan dalam kerangka budaya masyarakat setempat yang tepat. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi blind spot yang dapat menimbulkan alienasi dan anomi yang mengganggu ketertiban hidup bersama masyarakat Nuaulu yang selama ini telah terbangun atas dasar nilai-nilai adat.” (Prof. Dr. T. D. Pariela, MA,) Ketua Program Studi Sosiologi Program Pascasarjana (PPs) Universitas Pattimura “Uraian Johan Nina sangat tajam bukan saja sebagai bukti kerja kerasnya dalam melakukan penelitian lapangan melainkan lebih karena keterusterangan dan empatinya yang dalam. Ia berada di tengah-tengah masyarakat Nuaulu, tinggal bersama mereka, bekerja bersama mereka, dan mengamati perilaku hidup mereka baik laki-laki maupun perempuan. Melalui upaya itu, saudara Johan Nina mencoba mencari akar permasalahan baik dari sisi falsafah hidup maupun kebudayaan dan adat istiadat masyarakat Nuaulu. Dengan demikian, diharapkan pembaca akan dapat memahami apa dan siapa perempuan Nuaulu itu.” (Prof. Dr. Mus Huliselan, DEA) Guru Besar Antropologi Program Studi Pascasarjana (PPs) Universitas Pattimura

“Memahami cara pandang tradisional orang Nuaulu khususnya laki-laki Nuaulu terhadap perempuan Nuaulu, akan menambah referensi pengetahuan kita tentang kedudukan dan peran kaum perempuan Nuaulu dari perspektif gender.