Sebanyak 3 item atau buku ditemukan

CAPITA SELECTA ZAKAT

Esei-Esei Zakat Aksi Kolektif Melawan Kemiskinan

Buku ini merupakan kumpulan tulisan penulis dalam tema besar filantropi Islam dengan fokus bahasan seputar zakat dan penanggulangan kemiskinan. Sebagian artikel pernah dimuat di media cetak harian umum Republika, Pelita, Media Indonesia dan majalah BAZNAS. Sebagai sumber utama keuangan sosial islam (Islamic Social Finance) zakat menjadi instrumen korektif terhadap kemiskinan dan kesenjangan sosial-ekonomi. Peran zakat dalam mengontrol harta dan mengalirkannya di tengah masyarakat sebagai solusi kemiskinan perlu dipahami secara luas di kalangan umat Islam. Selain membersihkan harta dan jiwa, zakat menumbuhkan konsumsi, daya-beli dan investasi. Di samping mensucikan dan menumbuhkan harta, zakat menjaga dan melindungi martabat kemanusiaan. Pemberi zakat tidak boleh merasa lebih mulia daripada penerima zakat. Muzaki menunaikan zakat sebagai kewajiban karena Allah dan mustahik menerima zakat sebagai hak yang telah ditentukan untuk melindungi dan memperbaiki kehidupannya. Semenjak dekade belakangan gerakan zakat telah membaur dan ambil bagian (take part ) dalam berbagai aksi solidaritas kemanusiaan di negara kita. Pengelolaan keuangan sosial Islam terutama zakat dan wakaf, termasuk cash waqf, menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari dinamika pertumbuhan ekonomi dan keuangan syariah. Seperti diketahui sistem ekonomi dan keuangan syariah tidak hanya mendorong pertumbuhan sektor riil, tetapi juga sektor sosial dalam hal ini zakat, infak, sedekah dan wakaf sebagai mekanisme redistribusi aset dan pemerataan keuangan inklusif.

Buku ini merupakan kumpulan tulisan penulis dalam tema besar filantropi Islam dengan fokus bahasan seputar zakat dan penanggulangan kemiskinan.

Sosiologi Politik

Sosiologi politik merupakan kajian interdisiplin, irisan dua bidang ilmu, yakni sosiologi dan politik. Apabila sosiologi mengkaji mengenai masyarakat, lalu politik mengkaji kekuasaan para pengambil keputusan, maka sosiologi politik mengkaji relasi antara kehidupan masyarakat dengan keputusankeputusan yang diambil oleh penguasa. Konsep-konsep sosiologi politik bersifat dinamis dan mengikuti perkembangan zaman sehingga menarik perhatian siapa saja yang mengikuti dinamika politik. Manfaat terbesar dari bidang sosiologi politik adalah mencerdaskan pembaca dalam menganalisis situasi sosial politik yang ada di sekitarnya. Buku ini terdiri dari tujuh bab, dimana pembahasan dimulai dari konsep dasar sosiologi politik, konsep kekuasaan, faktor-faktor dalam struktur politik, unsur-unsur politik, gerakan sosial dan partai politik, konflik dan penyelesaiannya, terakhir hubungan parpol dengan perubahan politik. Pemilihan tema disesuaikan dengan konsep-konsep yang sering didiskusikan dalam ruang perkuliahan dan issue yang menjadi perbincangan di berbagai media massa. Sehingga buku Sosiologi Politik ini dapat digunakan oleh mahasiswa dan para pembaca yang tertarik dengan fenomena sosiologi politik. Konsep yang terdapat dalam buku ini berasal dari konsep-konsep yang telah dituliskan oleh penulis buku sosiologi politik sebelumnya, seperti Tom Bootomore, Rafael Raga Maran, Maurice Duverger, Damsar, Michael Rush & Philip Althoff, Keith Faulks dan Mochtar Mas’oed Nasikun. Kelebihan buku ini adalah dituliskan dalam bahasa yang lebih sederhana, dilengkapi dengan bagan alur serta beberapa analisis fenomena sosiologi politik terkini, sehingga diharapkan mudah dimengerti oleh para pembaca.

Sosiologi politik merupakan kajian interdisiplin, irisan dua bidang ilmu, yakni sosiologi dan politik.

Kaum intelektual dalam catatan kaki kekuasaan

Dinamika kaum intelektual dan intelektualisme menjadi sebuah kajian yang sangat menarik bagi saya, sehingga muncul keinginan untuk membongkar: Kaum intelektual sebenarnya siapa dan menyuarakan kepentingan siapa? Robert Brym mengatakan kaum intelektual dapat dikelompokkan: Pertama, memandang kaum intelektual semata-mata sebagai juru bicara bagi kepentingan satu kelas utama saja; Kedua, memandang kaum intelektual sebagai terpisah dari struktur kelas; Ketiga, menganggap kaum intelektual sebagai kelas tersendiri. Dalam buku ini dijelaskan bahwa intelektualisme selalu memiliki relasi dengan kekuasaan dan kapitalisme. Kapitalisme telah membuat kehidupan manusia berubah, dan bagaimana posisi kaum intelektual mengambil posisi dan dalam bersikap: apakah melawan kekuasaan untuk kemudian berpihak kepada kaum yang kalah, atau mungkin kaum intelektual tidak lebih dari sebuah catatan kaki dari narasi besar kekuasaan dan kekuatan kapitalisme? dan apakah kaum intelektual adalah manusia merdeka yang memerdekakan atau mungkin mereka justru berkontribusi dalam penindasan ! Saya menulis buku ini ketika sedang studi doktoral di UIN Maliki Malang pada periode tahun 2014 sampai 2017. Dalam proses perkuliahan untuk memeroleh gelar doktor tersebut, saya merasakan banyak kejanggalan dalam dunia akademik dan intelektualisme yang bersamaan dengan itu terjadi berbagai peristiwa di Indonesia yang di dalamnya banyak terlibat kaum intelektual. Guna mencari jawaban dari kegelisahan tersebut akhirnya saya putuskan untuk menulisnya.

Kaum intelegensia mempertanyakan kebenaran yang berlaku pada suatu saat,
dalam hubungannya dengan kebenaran yang lebih tinggi dan lebih luas.
Intelektualisme selalu berada dalam skeptisme, selalu bertanya, selalu
menggugat, ...