Sebanyak 5 item atau buku ditemukan

Tradisi, Agama, dan Akseptasi Modernisasi Pada Masyarakat Pedesaan Jawa (Edisi Revisi)

……. Yang sangat penting penulis sarankan untuk diteliti lebih dalam ialah bagaimana sebenarnya tingkat kesadaran beragama masyarakat Jawa khususnya dan masyarakat-masyarakat suku-suku bangsa lainnya di Indonesia umumnya. Pengalaman membuktikan, bahwa sejak berabad-abad masyarakat Jawa di Pulau Jawa ini telah dimasuki agama Hindu dan Buddha sehingga kita lihat peninggalan-peninggalannya berupa candi-candi Borobudur, Prambanan, mendut, Kalasan, Jago, dan sebagainya. Demikian cepatnya agama tersebut berkembang, sampai-sampai kebudayaan Hindu-Budda tersebut menjadi terakulturasi dengan tradisi asli Jawa. Akibatnya, sekarang kita kurang tahu mana sebenarnya tradisi yang asli Jawa dan mana yang datang dari luar. Penulis kira ini juga perlu diteliti. Namun, setelah masuknya agama islam yang dibawa oleh pedagang-pedagang dari Gujarat, Persia, dan sebagainya, maka serta merta agama Hindu-Buddha tersebut ditinggalkan penduduk. Menjadi persoalan bagi penulis ialah mengapa demikian cepatnya masyarakat Jawa tersebut meninggalkan agama Hindu-Buddha dan masuk ke agama islam? Mengapa peralihan itu menjadi demikian drastic dan cepat? Apakah karena sistem pemerintah feodal yang dulunya dianut oleh kerajaan-kerajaan di daerah ini, ataukah karena ada sebab-sebab lain? Suatu hal yang membayangi kecemasan penulis ialah apakah kalau datang lagi kelak dari luar “semacam kepercayaan” atau “semacam idiologi” yang menyusup ke daerah ini, maka penduduk akan serta merta pula meninggalkan agamanya masing-masing? …….apalagi kita bahwa kesetiaan kepada agama adalah di bawah persentase kesetiaan kepada tradisi. Penulis kira bahwa situasi ini tidak hanya mencemaskan kita yang di Jawa, melainkan juga ada kemungkinannya sama dengan di daerah-daerah lain. Namun, penulis menganjurkan agar penelitian terhadap problem ini perlu dilakukan. Sampai di mana tingkat kesadaran keagamaan orang Indonesia secara umum dan suku-suku bangsa yang ada di daerah-daerah secara khusus?......... (Bungaran Atonius Simanjuntak)

yang dikategorikan sebagai lembaga yang mendekatkan manusia dengan
Tuhannya.32 Bahkan sebelum datangnya “agama impor” dari Timur Tengah dan
Barat, rakyat Indonesia ribuan tahun yang lalu sudah memiliki suatu
kepercayaan, yang ... desain penelitian yang. *Sumber: “Hasil Penelitian” 32
Simanjuntak. B.A., “Perlu Tidaknya Penelitian Agama”, Artikel, Harian Sinar
Indonesia Baru (SIB), Medan, 5 Des.1975, hlm dalam. No. Agama Jumlah %
Jumlah KK % 1 Islam 5.328.

Dampak otonomi daerah di Indonesia

merangkai sejarah politik dan pemerintahan Indonesia

On decentralization in government in Indonesia.

Pangkal dari perang saudara itu adalah ketidakpuasan tokoh–tokoh daerah,
khususnya di Sumatera dan Sulawesi terhadap pemerintahan pusat di Jakarta
yang memusatkan pembangunan secara sentralistis di Jawa. Kelahiran
Undangundang nomor 22 tahun 1999 (UU 22/1999) tentang pemerintahan
daerah dan undang undang nomor 25 tahun 1999 (UU 25/1999) tentang
perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah merupakan awal
kembalinya pemberlakuan ...

Sejarah Pariwisata: Menuju Perkembangan Pariwisata Indonesia

  • ISBN 13 : 9786024334376
  • Judul : Sejarah Pariwisata: Menuju Perkembangan Pariwisata Indonesia
  • Pengarang : ,   Bungaran Antonius Simanjuntak,  
  • Penerbit : Yayasan Pustaka Obor Indonesia
  • Klasifikasi : 910.2
  • Call Number : 910.2 BUN s
  • Bahasa : Indonesia
  • Penaklikan : x,258 hlm;21 cm
  • Tahun : 2017
  • Halaman : 0
  • Ketersediaan :
    2018-35543-0010
    Tersedia di Pustaka Kubang Putih - IAIN Bukittinggi
    2018-35543-0009
    Tersedia di Pustaka Kubang Putih - IAIN Bukittinggi
    2018-35543-0008
    Tersedia di Pustaka Kubang Putih - IAIN Bukittinggi
    2018-35543-0007
    Tersedia di Pustaka Kubang Putih - IAIN Bukittinggi
    2018-35543-0006
    Tersedia di Pustaka Kubang Putih - IAIN Bukittinggi
    2018-35543-0005
    Tersedia di Pustaka Kubang Putih - IAIN Bukittinggi
    2018-35543-0004
    Tersedia di Pustaka Kubang Putih - IAIN Bukittinggi
    2018-35543-0003
    Tersedia di Pustaka Kubang Putih - IAIN Bukittinggi
    2018-35543-0002
    Tersedia di Pustaka Kubang Putih - IAIN Bukittinggi
    2018-35543-0001
    Tersedia di Pustaka Kubang Putih - IAIN Bukittinggi

Metode Penelitian Sosial (edisi revisi)

Maka penelitian pada umumnya diawali dengan pernyataan yang dimulai dengan kata-kata: Mengapa, Apa, Siapa, KApan, DI mana ? Disingkat menjadi MASKADI Dalam bahasa Inggris ialah : Why, What, When, Where, Who. Disingkat 5W Suatu hal yang mengherankan adalah, mengapa di dalam bahasa inggris unsur who atau siapa diletakan di tempat paling belakang? Di dalam bahasa dan budaya Indonesia, unsur Siapa atau unsur “orang” yang menjadi penanggung hak dan kewajiban, mempunyai tempat yang penting. Maka di dalam tulisan ini Siapa ditempatkan di tengah-tengah. Perbedaan dalam pemikiran ini sudah biasa, karena budaya di Indonesia berbeda dengan keadaan di Amerika atau Eropa. Menurut penulis, maka manusia sebagai penanggung jawab hak dan kewajiban sangat menentukan dalam proses hubungan antar anggota masyarakat. Maka di dalam bahasa Indonesia “Siapa” ditempatkan di tengah. Mungkin perumusan Barat ini lebih sesuai untuk penelitian Ilmu Ekonomi. (Soedjito) Penulis buku ini adalah murid dan guru. Pengalaman guru ditambah dengan pengalaman murid. Pengalaman para guru yang diturunkan kepada guru penulis ini kemudian terakumulasi di dalam pengajarannya kepada para murid.Ditambah dengan pengalaman latihan penelitian yang dilakukannya kepada para mahasiswanya. Akumulasi baru terbangun ketika akumulasi pengalaman warisan ditambah pengalaman guru sendiri, kemudian ditambah pengalaman muritnya, maka muncullah konsep metodologi dengan gaya yang baru berbeda dengan gaya buku pengarang Barat yang dikutip kebanyakan penulis. Buku demikian yang penulis harapkan atas buku ini. (BAS)

Maka penelitian pada umumnya diawali dengan pernyataan yang dimulai dengan kata-kata: Mengapa, Apa, Siapa, KApan, DI mana ?

Konsepku Membangun Bangso Batak

Manusia, Agama, dan Budaya

Patut dicatat memang, sejak sekitar tahun 1980-an khususnya HKBP, prestasinya dalam penginjilan tidak lagi bersinar. Mereka seakan melemah dalam penginjilannya, karena berbagai alasan, antara lain: a. Kepemimpinan yang rapuh. b. Kebersamaan yang tidak utuh. c. Fokus pelayanan tidak merata dan gamang. d. Daya kreasi dalam metode serta sistem pelayanan yang monoton ketinggalan dibandingkan dengan sistem yang dipergunakan denominasi lainnya. e. Tantangan masa dan zaman dalam globalisasi yang tidak dijawab secara tepat dan benar. f. Layanan para pendeta dan pimpinan gereja ada yang kurang berkenan bagi warga sendiri. g. Warga mempunyai pilihan secara bebas tentang gereja dan kebaktian di mana mereka ikut berbaur dan menyatu. Momentum peringatan 150 tahun HKBP tahun 2011, kiranya menjadi salah satu momen khusus bagi HKBP secara menyeluruh, pengurus dan warganya, untuk kembali merenung serta mengkaji berbagai hal yang dinikmati masa lalu dan dipergumulkan selama ini. (Ev. John B.Pasaribu Ph.D) . Pelayanan sosial Elim HKBP sifatnya adalah humanis universal. Artinya membantu manusia untuk tetap hidup sebagai manusia yang bermartabat. Sebagai manusia yang diciptakan Tuhan untuk turut hidup meramaikan dunia ini. Sebagai lembaga yang didirikan oleh satu gereja berbasis etnis Batak, tentunya landasan kulturalnya sangat kuat, yakni budaya Batak. Di dalam kebudayaan Batak pada umumnya ada filosofi yang kuat untuk saling membantu sesama mereka. Salah satu filosofi itu ialah saling membantu, saling gotong royong. Ungkapan yang kuat milik orang Batak, terutama Toba ialah si sada anak, si sada boru. Si sada lungun si sada las ni roha. Artinya kepemilikan kolektif.

Turunan dari marga Marbun yakni lumban Batu yang hingga sekarang sudah 13
generasi; lumban Gaol (13 generasi); 2. Boru bius5 yakni Nainggolan dan
Pandiangan (13 generasi); 3. Turunan Siraja Oloan yakni marga Sinambela,
Sihite, ...