Sebanyak 2 item atau buku ditemukan

Berkah Islam Indonesia

ISLAM adalah agama dakwah. Agama yang menuntun umatnya (muslim) untuk bisa mengajak kebaikan kepada segenap umat manusia di semesta alam. Begitulah tugas Muhammad pasca 'dilantik' oleh Allah menjadi utusan-Nya (Rasulullah). Sebagai Rasul, Muhammad saw., diberi wahyu bukan hanya untuk dirinya, melainkan juga untuk orang lain, umatnya di dunia. Jalan dakwah rahmatan lil’âlamîn adalah jalan dakwah yang dipilih Muhammad saw., yakni jalan dakwah yang merahmati (mengasihi) alam semesta. Begitu juga dengan para ulama (wali songo, kiai, ustaz, dan pemuka agama lainnya) di Indonesia, mereka memilih jalan dakwah yang damai, sekaligus bisa memadukan antara dimensi keislaman dan keindonesiaan. Dakwah Islam Indonesia pun dilanjutkan Gus Dur (Alm. KH. Abdurrahman Wahid), Cak Nur (Alm. Prof. Dr. Nurcholish Madjid), Prof. Dr. Ahmad Syafi'i Ma'arif, Prof. Dr. M. Quraish Shihab, Dr. KH. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), Emha Ainun Najib (Cak Nun), dan termasuk oleh Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj, M.A., bersama Mamang Muhamad Haerudin melalui buku ini, “Berkah Islam Indonesia: Jalan Dakwah Rahmatan Lil-'âlamîn.” Buku ini akan menunjukkan jalan Islam yang merangkul, bukan Islam yang memukul. Islam yang mengasihi, bukan Islam yang membenci. Islam yang mengapresiasi, bukan Islam yang mendiskriminasi. Islam yang pluralis, bukan Islam yang rasis. Selamat membaca!

Dr. KH. Said Aqil Siradj, M.A., bersama Mamang Muhamad Haerudin melalui buku ini, _Berkah Islam Indonesia: Jalan Dakwah Rahmatan Lil-'âlamîn._ Buku ini akan menunjukkan jalan Islam yang merangkul, bukan Islam yang memukul.

Cermin Hati: Satu Akhlak Al-Karimah, Sejuta Hikmah

Gus Mus pernah bilang, “Kalau kita ingin melihat wajah kita sendiri, biasanya kita bersendiri dengan kaca ajaib yang lazim kita sebut cermin. Dari cermin itu kita bisa melihat dengan jelas apa saja yang ada di wajah kita; baik yang menyenangkan maupun yang tidak. Bahkan mungkin membuat kita malu.” Sungguh, kalau kita renungkan, makna dawuh Gus Mus tersebut begitu dalam. Nabi Muhammad saw., sendiri pernah bersabda, “Al-Mu’minu mirah al-mu’min” (Orang mukmin adalah cermin orang mukmin lain). Atau juga “Inna ahadukum mirah alakhikhi” (Sesungguhnya salah seorang di antara kamu adalah cermin saudaranya). Maka dari itu, melalui buku ini kita akan diajak untuk belajar bersyukur, bermuhasabah, dan lain-lain, karena hidup memang harus disyukuri dan dimaknai. Insya Allah, kita akan menemukan cermin hati yang memantulkan pribadi baik kita dan saudara-saudara kita. Menjadi manusia yang saling bercermin satu sama lain untuk kebaikan sesama dan bersama. Cermin yang bening akan akhlak al-karimah dan memantulkan sejuta hikmah. Mumpung masih hidup di dunia, mari kita nandur kebaikan biar nanti kita panen di akhirat. Mari menanam kebaikan di dunia, untuk menuai kebaikan di akhirat. Seperti kata pepatah, al-dunya mazra’ah al-akhirat (dunia itu ladang akhirat). Oleh karena itu, man yazra’ yahshud! Siapa menanam, maka menuai! Selamat membaca.

Gus Mus pernah bilang, “Kalau kita ingin melihat wajah kita sendiri, biasanya kita bersendiri dengan kaca ajaib yang lazim kita sebut cermin.