Sebanyak 8 item atau buku ditemukan

Kisah Hikayat Nabi Luth AS (Lot) Dalam Islam

Nabi Luth AS atau Lot AS (sekitar 1950-1870 SM) adalah salah satu nabi yang diutus untuk negeri Sadum dan Gomorrah. Ia diangkat menjadi nabi pada tahun 1900 SM. Ia ditugaskan berdakwah kepada Kaum yang hidup di negeri Sadum. Namanya disebutkan sebanyak 27 kali dalam Kitab Suci Al-Quran. Ia wafat di Desa Shafrah di Syam, Palestina. Nabi Luth AS adalah anak keponakan dari Nabi Ibrahim AS. Ayahnya yang bernama Haran (Abara'an) bin Tareh adalah saudara kandung dari Nabi Ibrahim AS, ayahnya kembar dengan pamannya yang bernama Nahor. Silsilah lengkapnya adalah Luth bin Haran bin Azara bin Nahur bin Suruj bin Ra'u bin Falij bin 'Abir bin Syalih bin Arfahsad bin Syam bin Nuh. Ia menikah dengan seorang gadis yang bernama Ado, pendapat lain mengatakan ia bernama Walihah. Nabi Luth memiliki dua anak perempuan Raitsa dan Zaghrata. Nabi Luth AS beriman kepada saudara bapaknya {pamannya}, yaitu Nabi IbrahimAS , yang mendampinginya dalam semua perjalanan. Ketika mereka berada di Mesir mereka mempunyai usaha bersama dalam bidang peternakan yang sangat berhasil. Binatang ternaknya berkembang biak dengan pesat sehingga dalam waktu yang singkat jumlah binatang yang sudah berlipat ganda itu tidak dapat ditampung dalam tempat tersebut. Akhirnya usaha bersama Ibrahim-Luth dipecah dan binatang ternak serta harta milik perusahaan mereka dibagi dan berpisahlah Nabi Luth AS dengan Nabi Ibrahim AS. Kemudian Nabi Luth AS pindah ke Yordania dan bermukim di sebuah tempat bernama Sadum (Sodom).

Nabi Luth AS atau Lot AS (sekitar 1950-1870 SM) adalah salah satu nabi yang diutus untuk negeri Sadum dan Gomorrah.

Kisah Hikayat Nabi Adam AS Dalam Islam

Nabi Adam AS adalah tokoh dari Kitab Kejadian, Perjanjian Baru & Kitab Suci Al-Quran. Menurut mitos penciptaan dari agama-agama Abrahamik dia adalah seorang Nabi & manusia pertama. Dan menurut agama samawi pula merekalah leluhur dari semua manusia yang ada di bumi.Rincian kisah mengenai kehidupan Nabi Adam AS dan Siti Hawa (Eve) berbeda-beda antara agama Islam, Judaism, Nasrani maupun agama lain yang berkembang dari ketiga agama Abrahamik ini. Nabi Adam AS hidup selama 930 tahun, sedangkan Siti Hawa (Eve) diciptakan ketika Adam berusia 130 tahun. Al-Quran memuat kisah Adam dalam beberapa surat, di antaranya Surat Al-Baqarah (2):30-38 dan Surat Al-A’raaf (7):11-25. Menurut ajaran agama Abrahamik, anak-anak Nabi Adam AS dan Siti Hawa dilahirkan secara kembar, yaitu, setiap bayi lelaki dilahirkan bersamaan dengan seorang bayi perempuan. Adam menikahkan anak lelakinya dengan anak gadisnya yang tidak sekembar dengannya. Menurut hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Nabi Adam AS memiliki postur badan dengan ketinggian 60 hasta. Hadits mengenai ini pula ditemukan dalam riwayat Imam Muslim dan Imam Ahmad, namun dalam sanad yang berbeda. Sosok Nabi Adam AS digambarkan sangat beradab sekali, seorang Nabi yang cerdas, jujur, saleh, memiliki ilmu yang tinggi dan ia bukan makhluk purba. Ia berasal dari surga (jannah) yang berperadaban maju. Turun ke muka bumi bisa sebagai makhluk asing dari sebuah peradaban yang jauh lebih maju dan cerdas, dari peradaban di bumi sampai kapanpun, oleh karena itulah Allah SWT menunjuknya sebagai khalifah (pemimpin) di muka bumi ini. Dalam gambarannya ia adalah makhluk yang teramat cerdas, sangat dimuliakan oleh Allah SWT, memiliki kelebihan yang sempurna dibandingkan makhluk yang lain sebelumnya dan diciptakan dalam bentuk yang terbaik dan sempurna. Sesuai dengan Surah Al Israa' 70, yang berbunyi: "...dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkat mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan."

Adam menikahkan anak lelakinya dengan anak gadisnya yang tidak sekembar dengannya. Menurut hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Nabi Adam AS memiliki postur badan dengan ketinggian 60 hasta.

Kisah Hikayat Abdul Muthalib Kakek Nabi Muhammad SAW

Abdul Muthalib beliau bernama Asli Syaibah lahir Tahun 497 M, wafat dalam usia 80 Tahun Saat Rasulullah berusia 8 Tahun. Merupakan putra dari Hasyim bin Abdi Manaf. Terkait nama Abdul Muthalib ada kisah yang menyebutkan bahwa pamannya Al-Muthalib bin Manaf bergantian memegang tugas menyediakan minuman dan bantuan yang diperlukan kepada jamaah haji ketika saudaranya Hasyim telah meninggal dunia. Orang-orang Quraisy menyebutnya Al-Faidh karena kemurahan hatinya. Suatu hari, salah seorang temannya, Tsabit bin Al-Mundzir ayah Hasan bin Tsabit, penyair Rasulullah datang kepadanya, lalu berkata, “jika kamu melihat keponakanmu Syaibah diantara kita, maka kamu akan melihat keindahan, kewibawaan, dan kemuliaan.” Muthalib berkata, ”Menurut dugaanku, ibunya tidak akan menyerahkan kepadamu. Begitu juga paman-pamannya dari pihak ibu.” Salma Ibunda Syaibah (Abdul Muthalib) adalah seorang perempuan yang mulia dari bani Addi bin Najjar, yakni Salma binti Amr bin Zaid bin Labib dari Bani Addi bin Najjar. Suatu saat Hasyim bersama dengan kafilahnya berhenti di Madinah. Disana mereka menemukan sebuah pasar yang sedang ramai dengan aktivitas jual beli. Hasyim melihat seorang perempuan berada ditempat yang tinggi diatas pasar Perempuan ini memberikan perintah pembelian dan penjualan untuknya. Ia adalah perempuan yang teguh , berpendirian, rendah hati, dan cantik. Hasyim bertanya kepada penduduk sekitar, apakah ia masih gadis atau janda? Mereka mengatakan bahwa ia janda dan tidak mau menikah kecuali dengan laki-laki yang setara denganya karena kedudukanya terhormat di kalangan kaumnya. Ia menyaratkan bahwa jika ia menikah, maka pemegang kekuasaan adalah dirinya . Hasyim kemudian meminangnya. Stelah mengetahui kemuliaan nasab Hasyim, Salma menikahkan dirinya dengan Hasyim. Setelah perkawinan mereka menghasilkan anak yang pertama yaitu Syaibah. Hasyim wafat dalam sebuah perjalanan di Syam. Ia dimakamkan di Gaza. Setelah ayahnya meninggal Syaibah hidup dibawah penjagaan dan pemeliharaan ibunya dan paman-pamanya. Akhirnya Tsabit memberikan informasi kepada paman Syaibah, Yaitu Al-Muthalib tentang hal tersebut. Maka Al-Muthalib mendatanginya untuk membawanya pulang. Semula Salma menolak permintaan Al-Muthalib. Namun akhirnya ia menyetujuinya. Al-Muthalib membawa Syaibah kembali ke Makkah pada waktu siang. Ketika melihatnya,penduduk Makkah menyangka bahwa Syaibah adalah budaknya. Maka mereka berkata, “ini adalah Abdul Muthalib (budah Muthalib).” Al-Muthalib berkata, “Enyahlah kalian.! Sesungguhnya ia adalah anak saudaraku, Syaibah bin Hasyim.” Namun Syaibah tetap terkenal dengan sebutan Abdul Muthalib. Al-Muthalib pergi ke Yaman dan meninggal disana. Maka Abdul Muthalib bin Hasyim yang mengganti tugas memberikan minuman dan pelayanan kepada jamaah haji. Ia tidak pernah lelah untuk meberikan makanan dan minuman kepada mereka dalam wadah besar yang terbuat dari kulit di Makkah. Ketika sumur Zamzam telah ditemukan, jamaah haji diberi minum dari sumur ini. Abdul Muthalib adalah orang yang pertama kali menggali sumur zamzam setelah zaman dahulu dikubur oleh kabilah Jurhum saat dipaksa untuk keluar dari kota Makkah. Abdul Muthalib membawa air Zamzam ke Arafah untuk memberikan minuman kepada jamaah Haji. Dengan begitu, ia memberikan kenang-kenangan yang luar biasa, yaitu kenang-kenangan Nabi Ismail.

Abdul Muthalib beliau bernama Asli Syaibah lahir Tahun 497 M, wafat dalam usia 80 Tahun Saat Rasulullah berusia 8 Tahun.

Kisah Hikayat Kesabaran Nabi Ayyub AS Dalam Islam

Nabi Ayyub AS (sekitar 1540-1420 SM) adalah seorang nabi yang ditugaskan berdakwah kepada Bani Israil dan Kaum Amoria (Aramin) di Haran, Syam. Ia diangkat menjadi nabi pada tahun 1500 SM dan Namanya disebutkan sebanyak 4 kali di dalam Al-Quran. Ia mempunyai 26 anak dan wafat di Huran, Syam. Ayyub dikisahkan sebagai seorang nabi yang paling sabar ketika mendapatkan cobaan dari Tuhan, bahkan bisa dikatakan bahwa kesabarannya berada di ambang puncak kesabaran. Sering orang mengagumi kesabaran kepada Ayub. Misalnya, dikatakan: seperti sabarnya Ayyub. Jadi, Ayyub menjadi simbol kesabaran dan cermin kesabaran atau teladan kesabaran pada setiap bahasa, pada setiap agama, dan pada setiap budaya. Allah telah memujinya dalam kitab-Nya yang berbunyi: “Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayub) seorang yang sabar. Dialah sebaih-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya)." (QS. Shad: 44) Ayyub berasal dari bahasa Arab dan bahasa Ibrani, yang memiliki arti yang sama yaitu "menggantikan. Nabi Ayyub AS adalah salah seorang manusia pilihan dari sejumlah manusia pilihan yang mulia. Allah SWT telah menceritakan dalam kitab-Nya dan memujinya dengan berbagai sifat yang terpuji secara umum dan sifat sabar atas ujian secara khusus. Allah telah mengujinya dengan anaknya, keluarganya dan hartanya, kemudian dengan tubuhnya. Allah telah mengujinya dengan ujian yang tidak pernah ditimpakan kepada siapa pun, tetapi ia tetap sabar dalam menunaikan perintah Allah dan terus-menerus bertaubat kepada-Nya.

Nabi Ayyub AS (sekitar 1540-1420 SM) adalah seorang nabi yang ditugaskan berdakwah kepada Bani Israil dan Kaum Amoria (Aramin) di Haran, Syam.

Kisah Cinta Salman Al-Farisi Sahabat Nabi Muhammad SAW

Sebuah kisah cinta menarik tercatat dalam sejarah hidup seorang shahabat Rasulullah, Salman Al-Farisi. Ia merupakan seorang mantan budak dari Isfahan Persia. Kisah cinta Salman terjadi saat ia tinggal di Madinah setelah menjadi muslim dan menjadi salah satu sahabat dekat Rasulullah. Pada suatu waktu, Salman berkeinginan untuk menggenapkan dien dengan menikah. Selama ini, ia juga diam-diam menyukai seorang wanita salehah dari kalangan Anshar. Namun ia tak berani melamarnya. Sebagai seorang imigran, ia merasa asing dengan tempat tinggalnya, Madinah. Bagaimana adat melamar wanita di kalangan masyarakat Madinah? Bagaimana tradisi Kaum Anshar saat mengkhitbah wanita? Demikian yang dipikirkan Salman. Ia tak tahu menahu mengenai budaya Arab. Tentu saja tak bisa sembarangan tiba-tiba datang mengkhitbah wanita tanpa persiapan matang.

Sebuah kisah cinta menarik tercatat dalam sejarah hidup seorang shahabat Rasulullah, Salman Al-Farisi.

Kisah Hikayat Nabi Muhammad SAW Dalam Islam

Nabi Muḥammad SAW, selengkapnya Muḥammad bin Abdullah bin Abdul Mutthalib bin Hasyim (lahir di Mekkah, 20 April 570 – wafat di Madinah, 8 Juni 632 pada umur 62 tahun) adalah seorang nabi dan rasul terakhir bagi umat Muslim. Ia memulai penyebaran ajaran Islam untuk seluruh umat manusia dan bangsa jin serta mewariskan pemerintahan tunggal Islam. Meski kaum non-Muslim umumnya menganggap Nabi Muhammad SAW sebagai pendiri Islam, dalam pandangan Muslim, Nabi Muhammad SAW sama-sama menegakkan ajaran tauhid untuk mengesakan Allah SWT sebagaimana yang dibawa nabi dan rasul sebelumnya sejak dari zaman Nabi Adam AS. Umat Muslim menyebut Nabi Muhammad SAW dengan salam penghormatan "Shalallaahu 'Alayhi Wasallam" dan mengiringi dengan shalawat Nabi setiap nama Muhammad diperdengarkan. Dalam mengemban misi dakwahnya, umat Islam percaya bahwa Nabi Muhammad SAW diutus Allah SWT untuk menjadi nabi bagi seluruh umat manusia dan kaum jin, sedangkan nabi dan rasul sebelumnya hanya diutus untuk umatnya masing-masing, seperti halnya Nabi Musa AS yang hanya diutus untuk Bani Israil saja. Sedangkan kesamaan ajaran yang dibawa Nabi Muhammad SAW dengan nabi dan rasul sebelumnya ialah sama-sama mengajarkan keesaan Tuhan (Tawhid atau Pure Monotheism), yaitu kesaksian bahwa Tuhan yang berhak disembah hanyalah Allah SWT Tuhan Semesta Alam.

Muqauqis telah memberikannya kepada Nabi sebagai budak di mana itu
merupakan simbol tali kasih yang diisyaratkan oleh AlQur'an antara Islam dan
Masehi dan sebagai bentuk hukum bagi kaum Muslim dengan dihalalkannya
pernikahan dengan wanitawanita ahlul kitab. Maryam memberikan anak kepada
Nabi saw yang bernama Ibrahim, nama dari kakeknya, bapak para nabi. Namun
Ibrahim tidak hidup lama. Ia meninggal saat masih menyusu. Kematiannya
merupakan ujian ...

Kisah Hikayat Nabi Isa AS & Siti Maryam Dalam Islam

Nabi Isa AS adalah nabi penting dalam agama Islam dan merupakan salah satu dari Ulul Azmi. Dalam kitab suci Al-Qur'an, ia disebut Isa bin Maryam atau Isa al-Masih. Ia diangkat menjadi nabi pada tahun 29 M dan ditugaskan berdakwah kepada Kaum Bani Israil di Palestina. Namanya disebutkan sebanyak 25 kali di dalam Al-Quran. Cerita tentang Isa kemudian berlanjut dengan pengangkatannya sebagai utusan Allah SWT, penolakan oleh Bani Israil dan berakhir dengan pengangkatan dirinya ke surga (Jannah). Kemudian, ia diyakini mendapatkan gelar dari Allah SWT dengan sebutan Ruhullah dan Kalimatullah. Karena Nabi Isa AS dicipta dengan kalimat Allah "Jadilah!", maka terciptalah Nabi Isa AS, sedangkan gelar ruhullah artinya ruh dari Allah SWT karena Nabi Isa AS langsung diciptakan Allah SWT dengan meniupkan ruh kedalam rahim Maryam binti Imran (Virgin Mary). Narasi Qur'an tentang kehidupan Nabi Isa AS dimulai dari kelahiran Maryam sebagai putri dari Imran, berlanjut dengan tumbuh kembangnya dalam asuhan Nabi Zakariya AS, serta kelahiran Nabi Yahya AS. Kemudian Al-Qur'an menceritakan keajaiban kelahiran Nabi Isa AS sebagai anak Siti Maryam tanpa ayah. (Ingatlah), ketika Malaikat berkata: "Hai Maryam, seungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al Masih Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah). (Ali 'Imran: 45) Dikisahkan pula bahwa selama Nabi Isa AS berada didunia, ia tidak menikahi seorang wanita karena ia terlebih dahulu diangkat oleh Allah SWT kelangit. Akan tetapi, ada riwayat yang mengatakan bahwa Nabi Isa AS akan menikah dengan salah satu umat Nabi Muhammad SAW ketika ia turun dari langit, kejadian ini dikisahkan menjelang akhir zaman. Ajaran Islam menganggap Nabi Isa AS atau Jesus AS hanya sebagai utusan Allah SWT saja. Kepercayaan yang menganggap Isa sebagai Allah atau Anak Allah, menurut Islam adalah perbuatan syirik (mengasosiasikan makhluk sama dengan Allah), dan dengan demikian dianggap sebagai suatu penolakan atas konsep Keesaan Tuhan (tauhid/pure monotheism). Islam melihat Nabi Isa AS (Jesus AS) sebagai manusia biasa yang mengajarkan bahwa keselamatan datang dengan melalui kepatuhan manusia kepada kehendak Tuhan dan hanya dengan cara menyembah Allah SWT saja. Dengan demikian, Nabi Isa AS dalam ajaran Islam dianggap sebagai seorang muslim, begitu pula dengan semua nabi Islam. Islam dengan demikian menolak konsep trinitas dalam Ketuhanan Nasrani. Kaum Muslim meyakini bahwa Nabi Isa AS adalah sebagai seorang nabi pendahulu Muhammad SAW, dan menyatakan bahwa setelah ia akan muncul seorang nabi terakhir, sebagai penutup dari para nabi utusan Tuhan. Hal ini berdasarkan dari ayat Al-Qur'an, di mana Isa menyatakan tentang seorang rasul yang akan muncul setelah dia, yang bernama Ahmad. Islam mengasosiasikan Ahmad sebagai Muhammad. Kaum muslim juga berpendapat bahwa bukti Nabi Isa AS telah memberitahukan tentang akan hadirnya seorang nabi terakhir yaitu Nabi Muhammad SAW ada di dalam kitabnya.

Islam mengasosiasikan Ahmad sebagai Muhammad. Kaum muslim juga berpendapat bahwa bukti Nabi Isa AS telah memberitahukan tentang akan hadirnya seorang nabi terakhir yaitu Nabi Muhammad SAW ada di dalam kitabnya.

Kisah Hikayat Zaid bin Tsabit Sang Penulis Wahyu & Pecinta Ilmu Pengetahuan

Ketika itu kaum Muslimin sedang sibuk menyiapkan angkatan perang untuk menghadapi Perang Badar. Rasulullah SAW tengah melakukan pemeriksaan terakhir terhadap tentara Muslimin yang pertama-tama dibentuk, dan segera akan diberangkatkan di medan jihad di bawah komando beliau. Ketika Rasulullah sedang sibuk-sibuknya, tiba-tiba seorang anak laki-laki berusia kurang dari tiga belas tahun datang menghadap beliau. Anak itu kelihatan cerdas, terampil, cermat, dan teliti. Di tangannya tergenggam sebuah pedang yang panjangnya melebihi tinggi badannya. Dia berjalan tanpa ragu-ragu dan tanpa takut melewati barisan demi barisan menuju Rasulullah SAW. Begitu berada di depan Rasulullah, dia berkata, “Saya bersedia mati untuk Engkau, wahai Rasulullah, izinkanlah saya pergi jihad bersama engkau, memerangi musuh-musuh Allah di bawah panji-panjimu.” Rasulullah menengok anak itu dengan gembira dan takjub. Beliau menepuk-nepuk pundak anak itu tanda kasih dan simpati. Tetapi beliau menolak permintaan anak itu, karena usianya yang sangat muda. Anak itu pulang kembali membawa pedangnya, tergesek-gesek menyentuh tanah. Dia sedih dan kecewa, lantaran permintaannya untuk menyertai Rasulullah dalam peperangan pertama yang akan dihadapi beliau, ditolak. Ternyata dari kejauhan ibu anak itu, Nuwar binti Malik, mengikuti dari belakang. Ia pun tak kalah sedihnya. Dia ingin melihat anaknya berjuang di bawah panji-panji Rasulullah. Dalam angan-angannya terbayang, alangkah bahagianya ayah anak itu sekiranya dia masih hidup, melihat anaknya dapat mendekatkan diri kepada Rasulullah SAW, dan berjihad bersamanya. Tetapi, anak Anshar yang cerdas dan pintar ini tidak lekas putus asa. Walaupun dia ditolak Rasulullah untuk menjadi prajurit karena usianya masih sangat muda, dia berpikir mencari jalan lain yang tidak ada hubungannya dengan usia. Pikirannya yang tajam segera menemukan jalan. Jalan itu ialah di bidang ilmu dan hafalan.

Karena itu, Zaid bin Tsabit menulis Alquran didiktekan langsung oleh Rasulullah
secara bertahap sesuai dengan turunnya ayat. Alhasil, dia menjadi orang
pertama tempat umat Islam bertanya tentang Alquran sesudah Rasulullah wafat.
Dia menjadi ketua kelompok yang ditugaskan menghimpun Alquran pada masa
pemerintahan Abu Bakar Ash-Shiddiq. Kemudian, dia pula yang menjadi ketua
tim penyusun mushaf di zaman pemerintahan Usman bin Affan. Di antara
keutamaan ...